SEBELUM diskusi dimulai, panitia mempersiapkan forum. Peserta yang masih duduk di bangku belakang diinstruksikan maju mengisi tempat duduk yang masih kosong. Namun ada yang aneh bagi saya, karena kata panitia pesertanya 250 tapi yang hadir tidak sampai separuh. Masih banyak ruangan yang kosong.
Pada saat narasumber menyampaikan materinya beliau mengatakan, “Ini yang buat saya gak senang sejak masuk forum ini, karena masih banyak yang kosong kenapa panitia gak masuk juga? Panitia mengundang saya bilang katanya pesertanya sampai 200 tau-taunya cuman segini,” dengan nada nyinyir. Lalu peserta menjawab, “Ini pesertanya kebanyakan dari panitia, Pak!”
Apa yang bisa kita ambil dari pengalaman saya di atas? Situasi tersebut adalah bentuk dari minimnya literasi mahasiswa di Sumenep. Kemauan untuk mengikuti forum diskusi masih sangat kurang, sehingga berdampak pada kurangnya kesadaran dalam setiap individu seorang mahasiswa.
Dalam kegiatan mimbar kesetaraan tersebut, saya melihat mahasiswa yang datang jumlahnya cukup banyak saat seremonial berlangsung. Tetapi ketika seremonial selesai, transisi ke kegiatan inti (seminar mimbar kesetaraan) malah yang terjadi satu per satu peserta mulai keluar.
Kegiatan semacam ini ternyata sangat minim partisipasi mahasiswa. Situasi ini bukan hanya satu atau dua kali terjadi, tapi kerap kali saya temui di berbagai forum intelektual. Ini menunjukkan, tipisnya atmosfer literasi di ruang publik, khususnya di Sumenep.
Mengapa Hal Tersebut Bisa Terjadi?
Beberapa perguruan tinggi di Sumenep mulai kehilangan nilai kritis, terutama mahasiswanya. Mengapa? Karena, saya tidak melihat ada budaya atau tradisi diskusi tentang literatur akademik maupun nonakademik di kalangan mahasiswa belakangan ini. Kampus hari ini kehilangan diskursus. Dialektika perdebatan antara dosen dan mahasiswa sudah jarang terjadi.
Walaupun ada, ya paling berujung menjadi debat kusir. Biasa saja karena perdebatan berputar-putar semata karena kurang bekal literatur. Faktornya, budaya membaca buku, terus luntur di kalangan mahasiswa. Buku seolah menjadi barang langka. Sulit mendapati mahasiswa duduk di sudut kampus, warung kopi, atau taman dengan membaca buku.
BACA JUGA : Beban Ganda Mahasiswa Orang Asli Papua
Kondisi di Sumenep, menjadi contoh kecil dari fakta yang lebih besar. Dari data UNESCO, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat ke-100 dari 208 negara di tahun 2022. Sementara survei dari Program for International Student Assessment (PISA) 2018 menunjukkan, Indonesia pada urutan 72 dari 78 negara terkait literasi membaca. Tentu kondisi ini bukan untuk dibanggakan.
Di sisi lain, meski ada sejumlah komunitas literasi di Sumenep, tapi lagi-lagi hampir rata hanya terjebak formalitas, misalkan seminar saja. Tidak ada yang salah dengan kegiatan semacam itu. Namun, yang perlu dijawab adalah, apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah acara-acara seminar itu? Pertanyaan ini penting dijawab agar diskusi tidak selesai di ruang dingin ber-AC semata.
Sebab Lemahnya Literasi
Anda pernah menyaksikan interview Najwa Shihab bersama Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden RI saat ini? Saya tertarik mengulas satu dari banyak pertanyaan Najwa kepada Gibran. Kepada Gibran, Najwa bertanya, “Kalau Mas Gibran sendiri seberapa sering kemudian aktivitas membaca itu ditularkan oleh bapak dan Ibu”?
Gibran lantas menjawab, “Ya kalau saya sendiri jujur gak suka baca, dan sebenarnya budaya baca buku di rumah saya itu tidak ada,” Gibran menambahkan, “Ya itu tadi pada baca komik, main PS”. Ya begitulah ‘kejujuran’ Gibran mengakui tak suka membaca buku.
Mungkin dia juga penyumbang angka survei rendahnya minat baca di Indonesia. Gibran, bukan individu semata. Ia adalah wakil presiden negara ini. Dia menjadi publik figur dalam ruang politik dan bernegara kita karena jabatan strategisnya itu. Bisa dibayangkan, publik figur semacam ini tak doyan baca buku.
Mungkin juga Gibran adalah cermin generasinya kini. Ini menjadi indikasi kemalasan membaca buku bagi kalangan kaum hari ini. Sudah seharusnya, forum-forum akademik yang bernuansa ilmiah juga tak boleh dihilangkan agar mahasiswa mampu memberikan kontribusi nyata bagi kampus dan lingkungannya masing-masing.
Etos dalam berliterasi memang harus disadari bagi kalangan mahasiswa, Gen Z atau bahkan Gen Alpa. Gerakan membaca buku dan terus berliterasi, harus menggeser tradisi berkumpul tapi semua terdiam dan fokus ke gawai masing-masing. Tradisi harus bergeser menjadi percakapan yang menggugah dan mencerahkan akal budi mahasiswa.
BACA JUGA : Menghapus Prasangka Etnis Jawa dan Tionghoa
Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka pada banyak kesempatan, selalu mengkampanyekan AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan. Ia bahkan mengatakan, manusia yang tak pakai AI kalah dengan yang pakai AI. Miris juga dengan penyataan ini. Pasalnya, dengan minat baca yang kurang dan literasi yang lemah, AI hanya menawarkan cara instan dengan semakin menenggelamkan minat literasi.
Kecerdasan buatan menawarkan kemudahan. Yang perlu diluruskan dalam paradigma ini adalah, kecerdasan buatan hanyalah alat untuk membantu kerja manusia. Namun dengan literasi yang rendah, kecerdasan buatan malah difungsikan sebagai pengganti pikiran manusia, bahkan menggantikan manusia itu sendiri.
Usaha Meningkatkan Literasi
Cukup menarik kalau kita kaji tentang kondisi literasi di Sumenep saat ini. Yang saya rasakan, atmosfer literasi di sini belum setebal seperti di Yogyakarta. Ekosistem literasi di sana, sangat baik hingga mampu merawat berbagai aktivitas literasi di banyak sektor. Sumenep, masih jauh dari itu.
Memang sudah ada beberapa terobosan yang dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan literasi di Sumenep. Mulai adanya perpustakaan daerah sampai perpustakaan keliling setiap minggu. Namun saya rasa semua itu belum bisa dikatakan berhasil untuk meningkatkan literasi.
Inisiatif lain juga muncul dari BEM Universitas PGRI (UPI) Sumenep berupa kegiatan Beranda Literasi yang terbuka untuk mahasiswa UPI. Konsepnya sederhana, duduk melingkar membawa dan membaca buku secara berjamaah. Setelah itu mereka mendiskusikan apa yang dibaca hari itu. Hal semacam inilah yang harus diperbanyak di ruang publik.
Kita tahu tidak mudah meningkatkan minat membaca dan menulis di kalangan generasi muda. Faktornya, kurangnya dorongan dari lingkungan dan ditambah atmosfer literasi sendiri yang belum tumbuh. Lalu apa yang perlu dilakukan? Hal yang paling mungkin adalah, membuat forum-forum diskusi di mana saja. Bisa di kampus sampai warung kopi, tempat di mana anak-anak muda berumpul.
Forum juga perlu diarahkan ke ruang perpusatakaan publik. Perpustakaan bisa menjadi episentrum perjuangan literasi dan gerakan kolektif. Salah satu upayanya adalah mendirikan perpustakaan mandiri dan independen. Kemudian, manfaatkan pula sosial media sebagai platform kampanye untuk memperluas jangkauan.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Sumenep. Aktif juga sebagai jurnalis mahasiswa di LPM Retorika dan PPMI Nasional.